Ketua Umum
Slideshow

Puasa Membentuk Manusia Bertakwa

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah: 183)

Bulan suci ramadhan telah tiba dan dipastikan semua kaum muslim di seluruh dunia berlomba-lomba untuk menyambut kehadiran bulan yang penuh berkah ini. Di Indonesia sendiri, sudah jamak aktivitas keagamaan selama bulan suci Ramadhan semakin padat, mulai dari masjid, mushollah, majlis ta’lim dan tempat-tempat ibadah seluruhnya ramai dengan ritual peribadatan.

Ibadah Ramadhan semakin menjadi semarak dengan banyaknya paket-paket ibadah dan kajian keislaman yang ditawarkan dan diliput live oleh media TV. Bulan Ramadhan sebagai syahrun mubarak (bulan yang penuh berkah), yang di dalamnya tersimpan keistimewaan yaum rahmah (bulan kasih), ampunan (yaum maghfirah), dan sekaligus kesempatan menjauh dari api neraka (itqun min al-nar) menjadi medan magnet tersendiri bagi umat Islam. Kegairahan  ibadah ini tentunya menjadi salah satu indikator yang baik bagi keberagamaan di Indonesia yang akhir-akhir ini sedang diuji dengan stigma kekerasan dan sebagainya.

Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan istilah “as-shiyâm” yang bermakna “menahan”, “berhenti”, atau “tidak bergerak”. Sedangkan bulan diwajibkannya umat Islam berpuasa disebut bulan Ramadhan. Kata Ramadhan berasal dari bahasa Arab, bentuk pluralnya adalah ramadânât atau armidâ’ yang artinya adalah “panas”. Dalam al-Quran disebutkan bahwa tujuan puasa adalah menjadi insan yang bertakwa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS al-Baqarah: 183)

Kata “takwa” berasal dari kata waqâ-yaqî” yang berarti menjaga dan menutupi seseorang dari penderitaan atau rasa sakit. Para ulama mendefinisikan takwa sebagai perasaan takut kepada Allah yang akan melahirkan perbuatan yang sesuai dengan kehendak-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan takwa, manusia bisa membebaskan dirinya dari kepedihan dan merasakan nikmatnya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Menurut Ibnu Katsir, pengekangan hawa nafsu yang dilakukan kaum Muslim selama menjalani ibadah puasa akan menyempitkan ruang gerak setan menjerumuskan manusia kepada hal-hal yang dilarang Allah. Dengan demikian, kesempatan mencapai derajat muttaqin lebih terbuka di bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan lainnya karena hanya pada bulan inilah Sang Khalik mewajibkan puasa.

Sedangkan al-Qurthubi mengatakan ibadah puasa lebih utama dibandingkan dengan ibadah lainnya. Menurut Qurthubi, ada dua hal yang membuat puasa lebih utama dibandingkan dengan ibadah lainnya. Pertama, puasa melarang kelezatan hidup yang sebenarnya dihalalkan, dan larangan ini tidak terdapat dalam ibadah yang lain. Kedua, puasa adalah ibadah yang rahasia. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang bersangkutan dan tentu saja Allah SWT; tidak seperti ibadah lain yang tampak di mata manusia sehingga bisa dibuat-buat dan menimbulkan sikap riya’. Dua hal inilah, menurut Qurthubi, yang membuat puasa lebih utama dibandingkan dengan semua ibadah lainnya.

Namun untuk mencapai derajat sebagai muttaqin memang tidak mudah. Terlebih melihat fenomena instan yang terjadi hampir di setiap bulan suci Ramadhan ini. Fenomena sosial yang terjadi setiap bulan puasa menjadi bukti empiris yang cukup kuat. Munculnya pribadi terbelah (split personality) atau pribadi ambigu telah menjadi tontonan keseharian kita. Tidak sedikit perilaku orang yang berubah secepat kilat dan sangat berbeda dengan perilaku kesehariannya. Ramadhan laksana magic yang mampu mengubah apapun hanya dengan mantra ‘abra-gedabra’. Hingga orang kemudian hanya peduli pada ritus-ritus sakral hanya dengan mengakrabi bulan puasa dan meningkatkan kesalehan personal tanpa mengerti subtansi ibadahnya.

Kualifikasi takwa yang diisyaratkan dalam al-Qur’an merupakan sinergi antara kepecayaan pada yang gaib, internalisasi dalam diri dengan shalat dan sekaligus ekternalisasinya, yakni dengan beramal baik kepada sesama. Maqam takwa sendiri adalah sebuah perolehan simultan yang terus menjadi dan berproses secara berkesinambungan.

Dalam kajian Psikologi Conditioning J. Peaget bahwa jika seorang manusia sekali saja melakukan kejahatan, maka kesempatan untuk mengulangi perbuatan yang serupa semakin bertambah, sementara untuk melakukan perbuatan yang berlawanan semakin berkurang. Begitu juga sebaliknya dengan melakukan perbuatan yang baik selama Ramadhan dan konsisten setelahnya, maka dapat dipastikan seorang yang beriman hampir saja tidak bisa melakukan hal yang berlawanan; bahkan untuk sekedar memikirkannya sekalipun. Logika inilah yang secara psikologis ada di balik pola pemberdayaan puasa. Bahwa “tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa”. Kepada makna inilah idealnya dikembalikan semua prosesi ritual ibadah puasa Ramadhan kita, hingga tujuan puasa (muttaqin) bukanlah konsep yang kabur dan sulit untuk diraih. Insya Allah kita selaku umat Islam saat ini tengah menjalankan ibadah puasa Ramadhan mampu melahirkan manusia yang muttaqin.

Sekretaris Jendral
101 Ulama Sumsel
Counter
  • User Online: 1
  • Today Visitor: 22
  • Yesterday Visitor: 36
  • Total Visitor: 7979
  • Total Posts: 32
  • Last Post Date: May 23, 2013
Agenda
April 2014
S M T W T F S
« May    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930